SINOPSIS :
Tersebutlah 2 orang preman bersaudara di
kampung Noelbaki yang bernama Frengky dan Adiknya Rifal kedua orang preman ini sangat
meresahkan warga sekitar sehingga mereka berdua dibenci sekaligus ditakuti
warga. Setiap hari mereka berdua hanya berbuat kejahatan dengan memalak uang
orang – orang desa mereka juga biasa disewa untuk menjadi rentenier di rumah –
rumah warga.
Pada suatu pagi kedua
preman bersaudara ini di tugaskan untuk menagih uang di salah satu Rumah
seorang Majelis Gereja di kampung itu yang bernama Juyo, Namun saat kedua
saudara preman itu menagih uang pinjaman kepada Juyo ia tidak dapat memberikan
kembali uang yang di pinjamnya.
Hal ini menimbulkan amarah yang besar dari
kedua bersaudara preman itu, sehingga terjadilah penganiayaan kepada Juyo. Juyo
yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah akan keadaan yang dialaminya.
Keesokan harinya pada
saat selesai kebaktian Gereja Juyo yang masih trauma akan perlakuan kedua
preman bersaudara itu duduk termenung sendirian di Ruang Konsistori memikirkan
nasib yang kemarin di alaminya bersamaan dengan itu datanglah Pendeta Ecka yang baru memimpin perjamuan
pagi itu, ia kemudian menghampiri Juyo dan menanyai keadaan yang sedang dialami
oleh Juyo.
Setelah mengetahui
masalah yang dialami oleh Juyo, Pendeta Ecka pun merasa
iba terhadap masalah yang sedang di hadapi oleh Juyo ia juga tergerak untuk
menyadarkan kedua bersaudara preman itu. Saat itu juga Ecka mengajak Juyo untuk
menemui kedua preman bersaudara itu, Juyo pun menyetujui ajakan Ecka lalu
mereka pun pergi menemui kedua preman bersaudara itu
Saat sampai ditempat
kedua preman bersaudara tersebut mereka berdua mendapati kedua preman sedang mabuk
– mabukan dan ketahuan sedang memakai Narkoba jenis Ganja. Juyo dan Ecka dengan
spontan langsung menegur mereka, tapi bukannya sadar kedua preman ini malah
mengajak Ecka dan Juyo ribut. Karena tak ingin terjadi keributan Ecka pun
mengajak Juyo untuk pergi dari tempat tersebut. Karena tak digubris oleh Ecka
dan Juyo Frengky pun langsung dengan gelap mata memukul Rival yang juga sedang
mabuk, kemudian terjadilah perkelahian antar kedua preman ini lalu tanpa disadari Frengky yang tengah berada di tengah jalan pun langsung
di seret oleh sebuah Mobil, akibatnya Frengky mendapatkan luka yang cukup parah
di kakinya
Setelah kejadian tersebut Frengky
dilarikan ke Rumah Sakit dan Dokter memvonis Frengky untuk di amputasi kakinya
karena terluka cukup parah. Setelah diamputasi kedua kakinya hari-hari Frengky
hanya di habiskan diatas kursi roda, Mendengar bahwa Frengky mengalami
kecelakaan dan mendapat trauma yang sangat berat Pendeta Ecka dan Majelis Juyo
pun menyempatkan dirinya untuk menjenguk keadaan Frengky.
Sesampainya Ecka dan Juyo di rumah Frengky mereka melihat Frengky yang
dulunya sangat ditakuti warga berubah menjadi Frengky yang sangat
memprihatinkan kondisinya, Ecka dan Juyo pun merasa iba lalu menasihati
Frengky. Sejak saat itu Frengky bertobat dan berjanji tidak lagi akan
mengganggu keamanan dan ketertiban warga kampung Noelbaki.
PEMERAN
1. Ecka
2. Rival
3. Juyo
4. Frengki
NASKAH :
Mengetuk
pintu dan berteriak
Frengki : “
Hai ada orang tidak, cepat buka kalo tidak aku dobrak pintu ini” ?
Rival : “ Sodaraku kayaknya orangnya nggak mau
keluar lebih baik kita dobrak saja pintu ini biar tau rasa itu orang “!
Tiba-tiba
pintu berdecit pelan dari balik pintu muncul seorang lelaki setengah tua
menyapa mereka
Juyo : “
i...i...ia....T..T....Tu...an
Dengan
lantang Frengky menjawab
Frengky : “
Hai orang tua lebih baik keluar atau kalau tidak kamu saya pukul “
Juyo pun
keluar dengan wajah ketakutan menghampiri Frangky
Frengky : “
Begitu dong baru bagus, sekarang cepat berikan uang yang kamu pinjam dari bos
kami ”
Rival : “ Total
semuanya Rp. 2.500.000 dengan bunga keterlambatan karena anda sudah dua bulan
tak bayar jadi totalnya Rp.5.000.000
sekarang cepat berikan uangnya atau kalau tidak kamu akan tahu akibatnya ”
Mendengar
hal itu Juyo pun langsung tertunduk ketakutan dan hanya bisa berbicara dengan
suara pelan, tapi Juyo langsung saja di bentak oleh Fregky dan terjadilah
penganiayaan yang terjadi oleh Frengky dan juga Rival
Juyo : “ Maafkan
saya karena saya benar-benar tidak punya uang, tolong ampunilah saya Tuan “
Frengky : “
Tidak bisa, ada uang kamu selamat kalau tidak ada Uang kamu harus menanggung
resikonya sendiri “
Rival : “
Jadi kalau begitu kita kasih dia pelajaran saja, kita pukul saja dia biar dia
kapok dan takut sama kita, biar dia tau siapa sih kita ini ”
Kemudian
terjadilah penganiayaan yang sangat kejam yang dilakukan oleh kedua orang
bersaudara tersebut, hal ini menimbulkan Trauma yang berat kepada Juyo. Trauma
tersebut masih berlanjut sampai selesainya kebaktian di Gereja keesokan hari
Juyo yang masih Trauma tersebut kemudian duduk sendidian di Ruang konsistori
meratapi Nasibnya. Pendeta ecka yang kebetulan lewat melihat keadaan Juyo lalu
menghampirinya
Ecka : “
Sedang apa anda sendirian disini Pak Juyo, Apakah ada masalah yang menerpa
anda” ?
Juyo : “
Begini pak Pendeta, kemarin saya didatangi oleh kedua orang preman tersebut di
rumah saya lalu mereka memaksa saya untuk menagih Uang yang saya pinjam tapi
karena saya tidak mempunyai Uang sepeser pun maka saya tidak memberikannya
kepada mereka, akibatnya saya dianiaya oleh mereka berdua hingga wajah saya
menjadi babak belur”
Ecka : “ Apa..anda
di aniaya oleh kedua preman bersaudara itu, si Frengky dan si Rival itu”
Juyo : “ Ia
pak pendeta “
Ecka : “ Memangnya
berapa sisa Uang yang anda pinjam, kok bisa-bisanya anda dianiaya seperti intu ”
Juyo :
“Semuanya berjumlah Rp.5.000.000,- pak
Ecka pun
merasa iba dengan masalah yang sedang Juyo hadapi ia juga tergerak untuk menyadarkan kedua
bersaudara preman itu, lalu Ecka pun mengajak Juyo untuk menemui kedua preman
bersaudara itu, dengan agak takut-takut Juyo menyetujui permintaan Ecka untuk
menemannya bertemu kedua preman tersebut
Ecka : “ Juyo,
apakah kamu mau untuk menemaniku pergi menemui mereka berdua ” ?
Juyo : “ Tapi,
apakah tidak apa-apa, Apakah kita tidak dibuat macam-macam oleh mereka ” ?
Ecka : “
Tenang saja Juyo, saya berani jamin mereka tidak akan menyakiti anda “ .
Juyo : “
Baiklah kalau begitu saya akan mengikuti anda pergi menemui Frengky dan Rival “
.
Setelah
sampai di tempat Frengky dan Rival Mereka mendapati kedua preman ini sedang
dalam keadaan mabuk berat karena pengaruh minuman beralkohol dan juga Narkoba jenis Ganja. Ecka dan Juyo yang
melihat hal itu langsung saja menegur mereka
Ecka : “
Frengky, Rival. Sadarkah apa yang kalian lakukan ini telah merusak tubuh kalian
merusak Rumah Tuhan. Seharusnya tubuh kalian di lakukan untuk memuji dan
memuliakan Allah bukannya di rusak dengan Miras dan Narkoba “.
Frengky :
“Oh...Pak Pendeta yah....Apakah anda sudah habis berpidato di gereja pagi ini
pak”
Rival : “Ha..ha..ha..zhu pasti bro Pak Pendeta
zhu pidato habis di gereja orang zhu jam 1 siang begini kermana orang dong mau
tahan duduk dari pagi-pagi sampai sekarang”
Juyo : “ Kalian berdua lebih baik dengarkan apa
yang Pak pendeta bilang jangan malah menghina Pak Pendeta dengan omongan kalian
yang tak berpendidikan “.
Frengky : “
Ha..ha..ha..kamu kan yang kemarin dianiaya oleh kami berdua sampai babak belur,
kenapa kamu masih datang dan menunjukan wajahmu di depan kami. Apakah kamu
sudah bosan hidup”
Rival : “
Ehhh..... kalau kamu zhu bosan hidup lebih baik mari sini supaya dan serahkan
kamu punya diri kepada kami berdua kami janji akan memberikan service terbaik
buat kamu”
Ecka :
“Sudah...sudah kalian berdua diperingatkan sama saja. Apakah memang hati kalian
tidak dapat menerima Tuhan sebagai juruselamat kalian “ ?
Frengky :
“Memang benar Pak Pendeta hati kami berdua memang sudah lama hilang, betul atau
tidak Bro” ?
Rival : “
So pasti kawan, apa yang Bro bilang memang benar-benar betul”
Ecka : “
Yang penting nanti kalian berdua jangan menyesal saja karena ini hari kalian
berdua telah benar-benar membuat Tuhan menangis dengan kalian berdua punya
perbuatan”.
Setelah
mengatakan hal tersebut Ecka dan Juyo pun segera pergi dari hadapan Frengky dan
Rival yang masih dalam pengaruh Miras dan Narkoba. Tak lama kemudian timbul
pertengkaran diantara kedua preman tersebut
Frengky :
“Bro...coba kamu ambilkan untuk saya rokok satu batang dulu ko” !
Rival : “Ini, Bro ambil sendiri saja saya ada
mabuk parah nhe”
Frengky : “
Eh....saya surh kamu untuk ambil kasih saya Rokok kamu mau melawan dengan saya
kow “ ?
Rival : “ Tidak Bro...seharusnya bro mengerti
saya punya keadaan tow”
Frengky :
“Eh...kau berani macam-macam dengan saya kau kira kau itu siapa” ?
Tak lama kemudian
terjadilah perkelahian antara kedua preman bersaudara itu. Tanpa disadar olehnya Frengky telah
berada di tengah jalan akibatnya ia diseret oleh sebuah Mobil sehingga
mengaibatkan Luka yang cukup parah. Setelah di bawa ke Rumah Sakit dan oleh
dokter kakinya hasrus diamputasi kedua-duanya Frengky hanya bisa pasrah.
Hari-hari
Frengky pun dilalui di atas kursi Roda sampai Frengky pun tak memiliki Tujuan
dan harapan untuk hidup hingga suatu hari kabar mengenai kecelakaan Frengky ini
terdengar oleh Pendeta Ecka dan Juyo mereka pun menyempatkan diri untuk
menjenguk keadaan Frengky. Sesampainya di rumah Frengky, Pendeta Ecka dan Juyo
merasa Iba kepada kondisi Frengky yang memprihatinkan. Mereka pun lalu
menasihati Frengky.
Ecka : “
Frengky...apa yang kalian berdua rasakan sekarang ini “ ?
Frengky :
“Pak pendeta...saya benar-benar merasa tidak berguna lagi, harapan saya dan
tujuan saya sudah lenyap entah kemana pak pendeta”
Ecka :
“Rival...apa yang kamu rasakan sekarang ini” ?
Rival :
“Saya merasa saya hanya menjadi sampah masyarakat yang tertimbun dan tertanam
di tenagah-tengah kehidupan saja Pak Pendeta “
Ecka :
“Ok...jadi sekarang kalian berdua sudah sadar akan kalian berdua punya
kesalahan atau tidak” ?
Frengky dan
Rival : “ Sudah Pak Pendeta, kami sudah sadar kami berdua mau bertobat dan
menerima Tuhan sepenuhnya”
Ecka : “
Puji syukur atas kalimat yang kalian berdua ucapkan karena setiap kalimat yang
keluar dari mulut kalian adalah doa”
Frengky : “
Juyo, saya mau minta maaf kepada kamu karena saya pernah berbuat salah terhadap
kamu saya juga berjanji tidak akan berbuat keonaran lagi di kampung ini”
Rival : “
Ia betul Juyo, saya juga mau minta maaf kepada kamu karena saya pernah menghina
kamu juga saya berjanji untuk benar-benar bertobat”
Juyo : “ Ia Frengky, Rival saya sudah kasih maaf
kalian berdua
dan kalian
jangan asalkan berjanji kalian harus laksanakan setiap janji yang kalian
ucapkan karena janji adalah utang. Dan untuk kamu Frengky cobaan yang Tuhan
berikan kepada kamu tidak lebih dai kekuatanmu jadi bangkitlah dan jadilah
orang yang berguna”
Frengky : “
Terima kasih Juyo “
AMANAT
Janganlah
engkau meninggikan dirimu karena suatu saat engkau pasti akan direndahkan lebih
dari pada orang lain.